Minggu, 05 April 2009
Hati Yang Telaga
belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang
murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya
tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam
dadamu itu jadi sebesar danau."
Sabtu, 28 Februari 2009
Sastra Jawa Tidak Butuh Sensasi
HIDUP enggan, mati pun tak mau. Begitu ungkapan yang sering dialamatkan banyak orang terhadap kondisi sastra Jawa saat ini. Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan lainnya yang lebih dramatis, namun intinya hanya ingin memberi gambaran bahwa sastra Jawa dalam kondisi sekarat.
Tidak berhenti pada ungkapan-ungkapan yang cenderung mendramatisir sastra Jawa, kemudian banyak orang sering melakukan sebuah upaya-upaya konyol dan naif yang menurutnya sebagai langkah untuk menghidupkan kembali sastra Jawa. Salah upaya itu antara lain terjadi beberapa bulan terakhir ini, yakni pembacaan gurit agar tercatat sebagai rekor nasional, kemudian ada pula pembacaan geguritan di depan hewan-hewan di kebun binatang Gembiraloka. Masih banyak langkah-langkah konyol yang dilakukan orang, yang katanya berangkat dari keprihatinannya terhadap nasib sastra Jawa saat ini. Hmmm, hebat benar yang mereka.
Menurut saya, upaya-upaya di atas tidak akan punya pengaruh besar terhadap perkembangan sastra Jawa sendiri. Bahkan kalau boleh saya katakan, itu tidak ada manfaatnya untuk sastra Jawa, namun untuk dirinya memang banyak manfaatnya. Minimal orang yang melakukan itu, bisa menjadi sensasi publik, dan bisa dimuat di koran-koran. Boleh dikatanya mereka sebagai penumpang gelap sastra Jawa, untuk bisa dikenal orang semata. Coba, tanpa mereka memakai embel-embel sastra Jawa, tidak bakal bisa diperhatikan orang atau bisa dimuat di koran dan masuk TV.
Sastra Jawa telah mati! Wow, dramatis sekali kalimat itu. Kalimat itu hanya pantas dilontarkan oleh orang yang tidak paham tentang sastra Jawa. Jika itu sebagai kesimpulan, itu hanya layak diungkapkan oleh orang yang tidak mengerti perkembangan sastra Jawa saat ini. Jika saja kita memahami bagaimana perkembangan sastra Jawa di daerah Surabaya, Semarang, Solo, Kutoarjo, Jakarta, Malang, Bojonegoro, Tulung Agung, Kediri, Purworejo, Bantul, dan kota-kota lainnya, maka kita akan mengerti apakah kalimat sastra Jawa itu telah mati, itu kalimat tepat atau tidak. Jika sastra Jawa hanya dilihat secara picik dan sempit, hanya yang lingkup Yogyakarta saja, wajar jika kemudian menyimpulkan seperti itu. Tapi maaf, jika kemudian saya mengatakan itu sebuah bentuk kepicikkan semata. Dan sensasi-sensai, yang dikatakan untuk memperjuangkan sastra Jawa itu, menurut saya sebuah ke-naif-an semata. Sastra Jawa tidak butuh sensasi, sebab saat ini sastra Jawa butuh langkah kongkrit. Langkah kongkrit untuk menggairahkan kembali sastra Jawa hanya dengan berkarya sebaik mungkin. Dengan karya itu, sastra Jawa akan berdenyut kembali.
Untuk saat ini, saya merasa optimis dengan berkembangan sastra Jawa. Di Yogya saja, saat ini telah tumbuh dimana-mana kegiatan macapat yang dilakukan orang-orang tua. Tidak hanya dikampung-kampung, tapi paguyuban macapat juga telah lama merambah di kota. Beberapa radio dan TV, kini juga telah membuka ruang bagi sastra Jawa. Di Bantul setiap tanggal 17, juga diwajibkan memakai bahasa Jawa dan pakaian Jawa. Majalah dan rubrik untuk sastra Jawa sekarang semakin banyak. Lihat di Kedaulatan Rakyat ada rubrik Mekar Sari, Solopos ada rubrik Jagad Jawa, Suara Merdeka ada rubrik Pagelaran. Majalah Jawa hingga sekarang juga masih eksis, antara lain Djaka Lodhang (Yogya), Damar Jati (Jakarta), Jayabaya, Panyebar Semangat (Surabaya). Jadi kenapa masih teriak-teriak tentang sastra Jawa kalau sekarang mati.
Jika karena sastra Jawa sekarang kurang diminati banyak orang, itu bukan alasan tepat untuk menyimpulkan sastra Jawa mati. Sebagai saat ini, tidak hanya sastra Jawa yang kurang diminati orang, hampir semua ranah seni saat ini kurang diminati banyak orang juga. Lihat saja yang terjadi dengan pantomim, teater, musik klasik, tari klasik, seni patung, wayang orang, ludruk, kethoprak, dan wayang kulit nasibnya juga sama nasibnya seperti sastra Jawa. Bahkan semisal wayang kancil atau sindhen, nasibnya lebih mengenaskan lagi dibanding sastra Jawa. Toh pelaku kesenian lain tidak seheboh pelaku sastra Jawa. Tapi pelaku kesenian lain tetap intens berkarya dengan baik, karena mereka telah menjadikan itu sebagai pilihan hidup.
Jadi menurut saya, umpama Guines Record pun mencatat tentang sastra Jawa sebagai rekor dunia dengan melakukan pembacaan geguritan terpendek, itu tidak akan memberi dampak bagi pertumbuhan sastra Jawa lebih baik. Atau misal ada orang membaca geguritan di pucuk gunung Merapi, kemudia seluruh jaringan TV menayangkan secara langsung pun, itu tidak akan membuat nasib sastra Jawa lebih baik. Nasib sastra Jawa akan baik, menurut saya, jika pelaku-pelakunya mampu melahirkan karya-karya dengan baik dan memiliki kualitas sastra yang baik. Sebab dalam kondisi saat ini, sastra Jawa tidak butuh sensasi-sensasi. (*)
*) Eko Nuryono, penulis adalah pecinta dan pemerhati sastra Jawa. Aktif dalam berbagi kegiatan sastra Jawa di berbagai daerah. Kini tinggal di Bantul.
Selasa, 27 Januari 2009
Bangun Harapanmu Selalu Sobat
Jangan kecewa apabila hasil yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan, Percaya bahwa semuanya adalah kesuksesan, bukan kegagalan. Mengapa saya punya banyak kesuksesan? saya tahu banyak usaha yang gagal.
Thomas Alfa Edison
Agar dapat membahagiakan seseorang, isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan perutnya dengan makanan. [/:Frederick E. Crane]
Orang yang tidak berani memulai, tamatlah harapannya. [:/Anonymous]
Di mana tidak ada harapan di masa depan, di situ tidak ada kekuatan pada masa kini. [:/John C. Maxwell]
Apa Guna Putus Asa Sobat
[/:Erich Fromm]
Janganlah berputus asa. Tetapi kalau anda sampai berada dalam keadaan putus asa, berjuanglah terus meskipun dalam keadaan putus asa. [/:Anonymous]
Memang sangat tinggi letaknya kebahagiaan. Namun kita harus menuju ke sana. Ada orang yang berputus asa berjalan ke arahnya karena disangkanya jalan ke sana amat sulit. Padahal mudah, karena hal itu dimulai dari dirinya sendiri. [/:Said Mustafa]
Bertanya Aku Pada Sungai
kemana air arah mengalir?
siapa penentu arah gerak sungai
air yang menentukan arah sungai
atau sungai yang membentuk arah air mengalir.
manusia sekedar setitik air
tak lain demikianlah aku
sebagai setitik air kini tengah kuarungi
bentangan sungai kehidupanku ini
sungaikah yang membentuk arah air mengalir
atau airkah yang membentuk arah sungai mengalir?
jika tak ada sungai, air tetapkah air namanya
jika tak ada air, sungai tetapkah sungai namanya?
bertanya aku kepada sungai
siapa yang menciptkan kelokan-kelokan sungai
sungaikah? airkah? atau tanahkah?
tak pernah ada jawab tak pernah ada isyarat
mungkin sungai tidak pernah bertanya kepana jadi sungai
air tak pernah bertanya kenapa sebagai air
akupun sebagai air tak pernah bertanya kenapa sebagai air
dan kupasrahkan kepada sungai kehidupan
kemana pun aku akan dialirkan, tak kurisaukan
kepada batu dan karang mana aku akan dibenturkan
segalanya telah kuiklaskan
sebagai air akan hanya akan mengalir
dan tak akan pernah berhenti mengalir
sampai menuju samudera
sampai saat mataharia menjemputku
menjadi uang, lalu awan, lalu mendung
kemudian kurelakan tubuhkan sebagai tetesan hujan
basahi tanah, basahi dedaunan
aku bertanya kepada sungai
kasongan, juli 2007
Kiah Cinta Yang Menyakitkan itu...
TAKUT! Takut akan penolakan, takut jika Imam tidak merasakan hal yang sama,takut kalau Imam tidak menerimanya sebagai temannya lagi,takut kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya. Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Imam dan dengan harapan, bahwa Imam lah yang akan mengatakan bagaimana perasaannya kepada Siti.
Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar. Imam dan Siti pergi ke arah yang berlainan. Imam melanjutkan studinya ke keluar negeri,sedangkan Siti mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan, dengan surat,saling mengirimkan foto masing-masing dan saling mengirimkan hadiah. Siti merindukan Imam akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengatakan kepada Imam bagaimana perasaan cintanya, jika Imam kembali.
Dan tiba-tiba, surat dari Imam terhenti. Siti menulis kepadanya, tetapi tidak ada jawaban.
di mana dia? Apa yang terjadi? Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya.Dua tahun berlalu dan Siti tetap berharap bahwa Imam akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat.Dan doanya terkabul.
Dia menerima surat dari Imam , mengatakan…! ” Siti, aku punya kejutan untukmu…temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Imam”
Siti berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata itu.
Ketika harinya telah tiba, Siti menunggu dengan cemas. Dia memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia mencari Imam kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Imam . Kemudian datang seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.
Dia begitu perhatian melihat Siti, “Hai! Aku Angie, temannya Imam.Kamu Siti?” tanyanya. Siti menganggukkan kepala. “Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Imam tidak akan datang. Dia tidak akan datang lagi,” kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di pundaknya Siti.
Siti tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!! Apa yang telah terjadi?? Siti bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya menjadi pucat. “di mana Imam ? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku…” Siti memohon kepada si wanita.
Si wanita melihat dengan cermat ke Siti dan dia menepuk pundak Siti dan mengatakan, “ALAMAK SITI… INI IKE IMAM…APAKAH IKE TERLIHAT CANTIK SEKARANG? AIH….AIH……YEY NGGAK BISA NGENALIN IKE LAGI YAH??? IHHH…SEBEL DEH…..!!!”
Dan kemudian Siti langsung pingsan…