Kamis, 08 Juli 2010

Berkaca Kepada Batu

aku ingin menikmati diammu
seperti selalu kulihat senyum
di kedalaman waktu yang tak pernah beku
ingin aku berkaca kepadamu
agar kutemukan kembali diriku
aku ingin menikmati heningmu
kesunyian menari meski tanpa irama
ingin kutangkap gerak dalam sepi itu
terbungkus hening, seakan menjelma puisi
indah tak tergambarkan oleh kata

Kasongan, Januari 2009

Berguru Kepada Batu-batu

sebab kenyataan hidup seringkali luput
dari segala yang engkau angankan
panas-hujan senantiasa luput dari hitungan
ketika kini putaran musim kehilangan irama
maka bergurulah dirimu kepada batu
biarlah ia akan mengajarkan kepadamu
: tentang keikhlasan , ketulusan, dan kearifan


kepada sunyinya bening sungai
kepada tajam matahari yang memanggang tubuhnya
tak pernah keluh-kesah kau dengar
dari mulut batu-batu itu, bersama jernih embun pagi
ia sulam dingin-panas cuaca sebagai bait-bait puisi

Kasongan, Juli 2009

Kepada Gadis Berkerudung Jingga

apa yang bisa kita lakukan agar hidup kita bahagia?
kau mungkin akan menunjuk harta bisa wujudkannya
namun, kau gelengkan kepala ketika harta juga
kini justeru menjadi pangkal orang menderita


apa yang bisa kita lakukan agar hidup kita bahagia?
maukah kuajak kau ke tepaian laut saat senja
memandang geriak ombak bersahut
tenggelamnya matahari bersama melabuhnya nelayan
disana akan kau temukan kedamaian abadi
jika kita ada didalamnya, kebahagiaan kehilangan ujudnya
menyatu dengan nafas kita

Kasongan, 9 Maret 2009

Sebuah Rumah

jika aku, anak lelakimu, hingga kini tak jua pulang
bukan artinya tak lagi berbakti padamu kini ibu
rumahmu yang berdiri kini, tak membuat merasa pulang
memang gempa yang datang, kini tak tinggalkan tanda
namun sebuah rumah bagiku bukan sebatas benda mati
ratanya rumah dengan tanah, bukan sekedar hancurnya bangunan
namun, ada sejarah dan kisah terajut panjang mendadak musnah
dan kini, tempatku merasa pulang telah lenyap sudah
meski segala yang hancur telah pulih sudah

Kasongan, 9 Maret 2009

Surau Bambu

rinduku pada surau bambu
yang kesederhanaan membimbingku
saat malam dzikir-dzikir mengumandang syahdu
tanpa lengking adzan dan bingar-bingar kutbah
namun senyum mbah modin terasa meneduhkan


rinduku sujud diatas tikar lusuh
setiap gerakan sholat derit bambu menyapa
bait-bait doa memantul hingga inti sukma
tanpa doktrin dan dogma-dogma garang
agama terasa menyatu dengan nafas orang desa

Kasongan, 9 Maret 2009

Jiwa-jiwa Yang Lelah

jika pundakmu yang ringkih tak lagi sanggup
memanggul beban hidup yang kian memberat
sandarkan deritamu pada lembutnya malam
agar rembulan segera membasuh hatimu
dengan kehangatan cahaya putihnya

panjangnya sungai selalu berujung pada muara
luasnya samudera selalu menemu pantainya
tidak akan ada kelelahan tanpa butuh istirah
demikian derita, pastilah bersua pada bahagia

Kasongan, 9 Maret 2009

Lusuhnya Sepakbola di halaman Rumah Kita

Semangat nasionalisme terhadap suatu negara dan sepakbola acap kali berjalan berdampingan. Coba lihat saja, tatkala kesebelasan Inggris bertemu kesebelasan Argentina pada kejuaraan sepabola dunia misalnya, bisa dipastikan aroma nasionalisme menyeruak di sana. Duel musuh bebuyutan itu jelas akan mengingatkan kenangan dasyatnya perang Falkland ataupun Perang Malvinas (Bahasa Sepanyol: Guerra de las Malvinas) di tahun 1982. Jika Argentina berhasil menekuk kesebelasan Inggris misalnya, maka bisa dipastikan jutaan rakyat Argentina akan memadati jalan-jalan di Buenos Aires untuk merayakan kemenangan itu. Mereka akan menggibarkan bendera biru-putih dan menyanyikan lagu kebangsaan negeri Tanggo, seakan mereka merayakan kemenangan pasukan perang negaranya.

Tidak masuk akal memang, tapi itulah realitas yang terjadi, sepakbola kadang mampu menjadi sihir yang mampu membakar api semangat nasionalisme dalam jiwa manusia. Bahkan di Jerman, sepakbola mampu membangkitkan kembali semangat patriotisme dan nasionalisme banyak rakyat Jerman yang selama ini merasa inferior dengan ke-Jermanan-nya. Mereka malu dan super minder dengan sejarah kelam Nazi pimpinan Adolf Hitler yang demikian rasis itu. Tapi kini, setelah Jerman cukup perkasa di ajang sepakbola sejagat itu, mulai merambat rasa percaya diri rakyat Jerman.

Franz Josef Wagner, seorang kolumnis tersohor di Jerman, memberi kesaksian kejadian tersebut. Dia menulis di harian Berliner Zeitung setelah menyaksikan kegairahan masyarakat Jerman mengibarkan bendera Schwarz-Rot-Gold (Hitam-Merah-Emas) untuk mendukung tim nasional mereka di Piala Dunia. Bendera nasional ditemui di segala sudut kota dan desa, di kaca spion mobil, di atas atap rumah, juga yang tersebar di hampir semua daerah. Para suporter Jerman juga mulai rajin dan bangga menyanyikan kalimat pertama dari lagu kebangsaan Jerman, Das Deutschlandlied: Deutschland, Deutschland ueber alles…! (Jerman, Jerman di atas semua…!).

Melihat fenomena di atas sampai-sampai Kanselir Jerman, Angela Merkel menyebut hal ini sebagai tumbuhnya semangat nasionalisme dan patriotisme Jerman yang baru.

Saya, dan mungkin jutaan rakyat Indonesia lainya, sangat merindukan suasana seperti yang dirasakan jutaan rakyat Jerman itu. Saya merindukan timnas sepakbola Indonesia mampu menggetarkan jiwa nasionalisme dan patriotisme 210 juta rakyat dari Sabang sampai Merauke ini, seperti yang dirasakan jutaan rakyat Jerman ketika melihat timnas sepakbolanya bertanding atas nama negara.

Mungkin saja kerinduan saya di atas, juga menjadi kerinduan rakyat Indonesia lainnya. Namun jika melihat kenyataan mutu timnas sepakbola kita saat ini yang belum layak untuk dibanggakan. Jangankan untuk bersaing di ajang piala dunia, bersaing di tingkat Asean saja belum tentu berjaya timnas Indonesia. Kualitas timnas memang tidak bisa mutu pemain-pemain yang ada di klub-klub sepakbola saat ini. Siapa pun
sudah tahu hampir semua klub di Indonesia selalu mengandalkan APBD untuk kelangsungan hidupnya mengikuti kompetisi, sehingga untuk dijadikan sebagai klub sepakbola yang dikelola secara profesional masih sangat sulit.

Tidak mudah memang mencari solusi untuk mengurai persoalan sepakbola di negeri ini, tapi menurut saya, ada dua langkah penting yang mesti dilakukan. Kedua langkah itu antara lain: Pertama, penempatan orang yang betul-betul paham tentang sepakbola
untuk mengurus klub-klub yang ada selama. Jadi jika ada orang yang hanya ingin mencari uang dan tidak paham mengurus klub sepakbola, sebaiknya singkirkan saja jauh-jauh orang jenis ini. Organisasi yang menaungi klub-klub di seluruh Indonesia –dalam hal ini PSSI- harus ditangani orang yang paham betul dunia sepakbola. Rekruitment orang-orang yang duduk dalam kepengurusan PSSI harus transparan dan
fair. Bahkan jika perlu harus diadakan fit and propertest. Ini penting, jangan samapi memilih pengurus seperti memilih kucing dalam karung.

Kedua, mutu kompetisi sepak bolanya harus ditingkatkan. Kompetisi harus dikelola secara professional, bukan berarti meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia, tapi meningkatkan mutu permainan sehingga pertandingan menjadi enak ditonton. Karena dengan mutu kompetisi yang berkualitas, secara tidak langsung nantinya akan bisa
meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia.

Ya, meski kondisi sepakbola kita saat ini seperti ini, tapi saya yakin masih banyak orang yang peduli. Mencari kambing hitam atas keterpurukan prestasi sepakbola kita adalah hal yang gampang, tapi apakah bisa memberi solusi yang baik itulah yang jadi persoalan kemudian. Tidak ada salahnya kiranya jika saya ingin mencuplik petikan
lagu Iwan Fals, "Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita bukan satu alasan untuk kita tinggalkan" Bravo sepakbola Indonesia. *)