Kamis, 08 Juli 2010

Kepada Gadis Berkerudung Jingga

apa yang bisa kita lakukan agar hidup kita bahagia?
kau mungkin akan menunjuk harta bisa wujudkannya
namun, kau gelengkan kepala ketika harta juga
kini justeru menjadi pangkal orang menderita


apa yang bisa kita lakukan agar hidup kita bahagia?
maukah kuajak kau ke tepaian laut saat senja
memandang geriak ombak bersahut
tenggelamnya matahari bersama melabuhnya nelayan
disana akan kau temukan kedamaian abadi
jika kita ada didalamnya, kebahagiaan kehilangan ujudnya
menyatu dengan nafas kita

Kasongan, 9 Maret 2009

Sebuah Rumah

jika aku, anak lelakimu, hingga kini tak jua pulang
bukan artinya tak lagi berbakti padamu kini ibu
rumahmu yang berdiri kini, tak membuat merasa pulang
memang gempa yang datang, kini tak tinggalkan tanda
namun sebuah rumah bagiku bukan sebatas benda mati
ratanya rumah dengan tanah, bukan sekedar hancurnya bangunan
namun, ada sejarah dan kisah terajut panjang mendadak musnah
dan kini, tempatku merasa pulang telah lenyap sudah
meski segala yang hancur telah pulih sudah

Kasongan, 9 Maret 2009

Surau Bambu

rinduku pada surau bambu
yang kesederhanaan membimbingku
saat malam dzikir-dzikir mengumandang syahdu
tanpa lengking adzan dan bingar-bingar kutbah
namun senyum mbah modin terasa meneduhkan


rinduku sujud diatas tikar lusuh
setiap gerakan sholat derit bambu menyapa
bait-bait doa memantul hingga inti sukma
tanpa doktrin dan dogma-dogma garang
agama terasa menyatu dengan nafas orang desa

Kasongan, 9 Maret 2009

Jiwa-jiwa Yang Lelah

jika pundakmu yang ringkih tak lagi sanggup
memanggul beban hidup yang kian memberat
sandarkan deritamu pada lembutnya malam
agar rembulan segera membasuh hatimu
dengan kehangatan cahaya putihnya

panjangnya sungai selalu berujung pada muara
luasnya samudera selalu menemu pantainya
tidak akan ada kelelahan tanpa butuh istirah
demikian derita, pastilah bersua pada bahagia

Kasongan, 9 Maret 2009

Lusuhnya Sepakbola di halaman Rumah Kita

Semangat nasionalisme terhadap suatu negara dan sepakbola acap kali berjalan berdampingan. Coba lihat saja, tatkala kesebelasan Inggris bertemu kesebelasan Argentina pada kejuaraan sepabola dunia misalnya, bisa dipastikan aroma nasionalisme menyeruak di sana. Duel musuh bebuyutan itu jelas akan mengingatkan kenangan dasyatnya perang Falkland ataupun Perang Malvinas (Bahasa Sepanyol: Guerra de las Malvinas) di tahun 1982. Jika Argentina berhasil menekuk kesebelasan Inggris misalnya, maka bisa dipastikan jutaan rakyat Argentina akan memadati jalan-jalan di Buenos Aires untuk merayakan kemenangan itu. Mereka akan menggibarkan bendera biru-putih dan menyanyikan lagu kebangsaan negeri Tanggo, seakan mereka merayakan kemenangan pasukan perang negaranya.

Tidak masuk akal memang, tapi itulah realitas yang terjadi, sepakbola kadang mampu menjadi sihir yang mampu membakar api semangat nasionalisme dalam jiwa manusia. Bahkan di Jerman, sepakbola mampu membangkitkan kembali semangat patriotisme dan nasionalisme banyak rakyat Jerman yang selama ini merasa inferior dengan ke-Jermanan-nya. Mereka malu dan super minder dengan sejarah kelam Nazi pimpinan Adolf Hitler yang demikian rasis itu. Tapi kini, setelah Jerman cukup perkasa di ajang sepakbola sejagat itu, mulai merambat rasa percaya diri rakyat Jerman.

Franz Josef Wagner, seorang kolumnis tersohor di Jerman, memberi kesaksian kejadian tersebut. Dia menulis di harian Berliner Zeitung setelah menyaksikan kegairahan masyarakat Jerman mengibarkan bendera Schwarz-Rot-Gold (Hitam-Merah-Emas) untuk mendukung tim nasional mereka di Piala Dunia. Bendera nasional ditemui di segala sudut kota dan desa, di kaca spion mobil, di atas atap rumah, juga yang tersebar di hampir semua daerah. Para suporter Jerman juga mulai rajin dan bangga menyanyikan kalimat pertama dari lagu kebangsaan Jerman, Das Deutschlandlied: Deutschland, Deutschland ueber alles…! (Jerman, Jerman di atas semua…!).

Melihat fenomena di atas sampai-sampai Kanselir Jerman, Angela Merkel menyebut hal ini sebagai tumbuhnya semangat nasionalisme dan patriotisme Jerman yang baru.

Saya, dan mungkin jutaan rakyat Indonesia lainya, sangat merindukan suasana seperti yang dirasakan jutaan rakyat Jerman itu. Saya merindukan timnas sepakbola Indonesia mampu menggetarkan jiwa nasionalisme dan patriotisme 210 juta rakyat dari Sabang sampai Merauke ini, seperti yang dirasakan jutaan rakyat Jerman ketika melihat timnas sepakbolanya bertanding atas nama negara.

Mungkin saja kerinduan saya di atas, juga menjadi kerinduan rakyat Indonesia lainnya. Namun jika melihat kenyataan mutu timnas sepakbola kita saat ini yang belum layak untuk dibanggakan. Jangankan untuk bersaing di ajang piala dunia, bersaing di tingkat Asean saja belum tentu berjaya timnas Indonesia. Kualitas timnas memang tidak bisa mutu pemain-pemain yang ada di klub-klub sepakbola saat ini. Siapa pun
sudah tahu hampir semua klub di Indonesia selalu mengandalkan APBD untuk kelangsungan hidupnya mengikuti kompetisi, sehingga untuk dijadikan sebagai klub sepakbola yang dikelola secara profesional masih sangat sulit.

Tidak mudah memang mencari solusi untuk mengurai persoalan sepakbola di negeri ini, tapi menurut saya, ada dua langkah penting yang mesti dilakukan. Kedua langkah itu antara lain: Pertama, penempatan orang yang betul-betul paham tentang sepakbola
untuk mengurus klub-klub yang ada selama. Jadi jika ada orang yang hanya ingin mencari uang dan tidak paham mengurus klub sepakbola, sebaiknya singkirkan saja jauh-jauh orang jenis ini. Organisasi yang menaungi klub-klub di seluruh Indonesia –dalam hal ini PSSI- harus ditangani orang yang paham betul dunia sepakbola. Rekruitment orang-orang yang duduk dalam kepengurusan PSSI harus transparan dan
fair. Bahkan jika perlu harus diadakan fit and propertest. Ini penting, jangan samapi memilih pengurus seperti memilih kucing dalam karung.

Kedua, mutu kompetisi sepak bolanya harus ditingkatkan. Kompetisi harus dikelola secara professional, bukan berarti meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia, tapi meningkatkan mutu permainan sehingga pertandingan menjadi enak ditonton. Karena dengan mutu kompetisi yang berkualitas, secara tidak langsung nantinya akan bisa
meningkatkan prestasi sepak bola Indonesia.

Ya, meski kondisi sepakbola kita saat ini seperti ini, tapi saya yakin masih banyak orang yang peduli. Mencari kambing hitam atas keterpurukan prestasi sepakbola kita adalah hal yang gampang, tapi apakah bisa memberi solusi yang baik itulah yang jadi persoalan kemudian. Tidak ada salahnya kiranya jika saya ingin mencuplik petikan
lagu Iwan Fals, "Lusuhnya kain bendera di halaman rumah kita bukan satu alasan untuk kita tinggalkan" Bravo sepakbola Indonesia. *)

Minggu, 05 April 2009

Hati Yang Telaga

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya
belakangan ini selalu tampak murung.

"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di
dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? " sang Guru bertanya.

"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya, " jawab sang
murid muda.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam.
Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana
yang diminta.

"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata
Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air
asin.

"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih
meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis
keasinan.

"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat
tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa
bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa
asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah
di hadapan mursyid, begitu pikirnya.

"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil
mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir
danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan
membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin
dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya
kepadanya, "Bagaimana rasanya?"

"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan
punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber
air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang
tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya,
membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah
dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih.
Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus
kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai
untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang
dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun
demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang
bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan.

"Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat
tergantung dari besarnya 'qalbu'(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya
tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam
dadamu itu jadi sebesar danau."

Sabtu, 28 Februari 2009

Sastra Jawa Tidak Butuh Sensasi

HIDUP enggan, mati pun tak mau. Begitu ungkapan yang sering dialamatkan banyak orang terhadap kondisi sastra Jawa saat ini. Masih banyak lagi ungkapan-ungkapan lainnya yang lebih dramatis, namun intinya hanya ingin memberi gambaran bahwa sastra Jawa dalam kondisi sekarat.

Tidak berhenti pada ungkapan-ungkapan yang cenderung mendramatisir sastra Jawa, kemudian banyak orang sering melakukan sebuah upaya-upaya konyol dan naif yang menurutnya sebagai langkah untuk menghidupkan kembali sastra Jawa. Salah upaya itu antara lain terjadi beberapa bulan terakhir ini, yakni pembacaan gurit agar tercatat sebagai rekor nasional, kemudian ada pula pembacaan geguritan di depan hewan-hewan di kebun binatang Gembiraloka. Masih banyak langkah-langkah konyol yang dilakukan orang, yang katanya berangkat dari keprihatinannya terhadap nasib sastra Jawa saat ini. Hmmm, hebat benar yang mereka.

Menurut saya, upaya-upaya di atas tidak akan punya pengaruh besar terhadap perkembangan sastra Jawa sendiri. Bahkan kalau boleh saya katakan, itu tidak ada manfaatnya untuk sastra Jawa, namun untuk dirinya memang banyak manfaatnya. Minimal orang yang melakukan itu, bisa menjadi sensasi publik, dan bisa dimuat di koran-koran. Boleh dikatanya mereka sebagai penumpang gelap sastra Jawa, untuk bisa dikenal orang semata. Coba, tanpa mereka memakai embel-embel sastra Jawa, tidak bakal bisa diperhatikan orang atau bisa dimuat di koran dan masuk TV.

Sastra Jawa telah mati! Wow, dramatis sekali kalimat itu. Kalimat itu hanya pantas dilontarkan oleh orang yang tidak paham tentang sastra Jawa. Jika itu sebagai kesimpulan, itu hanya layak diungkapkan oleh orang yang tidak mengerti perkembangan sastra Jawa saat ini. Jika saja kita memahami bagaimana perkembangan sastra Jawa di daerah Surabaya, Semarang, Solo, Kutoarjo, Jakarta, Malang, Bojonegoro, Tulung Agung, Kediri, Purworejo, Bantul, dan kota-kota lainnya, maka kita akan mengerti apakah kalimat sastra Jawa itu telah mati, itu kalimat tepat atau tidak. Jika sastra Jawa hanya dilihat secara picik dan sempit, hanya yang lingkup Yogyakarta saja, wajar jika kemudian menyimpulkan seperti itu. Tapi maaf, jika kemudian saya mengatakan itu sebuah bentuk kepicikkan semata. Dan sensasi-sensai, yang dikatakan untuk memperjuangkan sastra Jawa itu, menurut saya sebuah ke-naif-an semata. Sastra Jawa tidak butuh sensasi, sebab saat ini sastra Jawa butuh langkah kongkrit. Langkah kongkrit untuk menggairahkan kembali sastra Jawa hanya dengan berkarya sebaik mungkin. Dengan karya itu, sastra Jawa akan berdenyut kembali.

Untuk saat ini, saya merasa optimis dengan berkembangan sastra Jawa. Di Yogya saja, saat ini telah tumbuh dimana-mana kegiatan macapat yang dilakukan orang-orang tua. Tidak hanya dikampung-kampung, tapi paguyuban macapat juga telah lama merambah di kota. Beberapa radio dan TV, kini juga telah membuka ruang bagi sastra Jawa. Di Bantul setiap tanggal 17, juga diwajibkan memakai bahasa Jawa dan pakaian Jawa. Majalah dan rubrik untuk sastra Jawa sekarang semakin banyak. Lihat di Kedaulatan Rakyat ada rubrik Mekar Sari, Solopos ada rubrik Jagad Jawa, Suara Merdeka ada rubrik Pagelaran. Majalah Jawa hingga sekarang juga masih eksis, antara lain Djaka Lodhang (Yogya), Damar Jati (Jakarta), Jayabaya, Panyebar Semangat (Surabaya). Jadi kenapa masih teriak-teriak tentang sastra Jawa kalau sekarang mati.

Jika karena sastra Jawa sekarang kurang diminati banyak orang, itu bukan alasan tepat untuk menyimpulkan sastra Jawa mati. Sebagai saat ini, tidak hanya sastra Jawa yang kurang diminati orang, hampir semua ranah seni saat ini kurang diminati banyak orang juga. Lihat saja yang terjadi dengan pantomim, teater, musik klasik, tari klasik, seni patung, wayang orang, ludruk, kethoprak, dan wayang kulit nasibnya juga sama nasibnya seperti sastra Jawa. Bahkan semisal wayang kancil atau sindhen, nasibnya lebih mengenaskan lagi dibanding sastra Jawa. Toh pelaku kesenian lain tidak seheboh pelaku sastra Jawa. Tapi pelaku kesenian lain tetap intens berkarya dengan baik, karena mereka telah menjadikan itu sebagai pilihan hidup.

Jadi menurut saya, umpama Guines Record pun mencatat tentang sastra Jawa sebagai rekor dunia dengan melakukan pembacaan geguritan terpendek, itu tidak akan memberi dampak bagi pertumbuhan sastra Jawa lebih baik. Atau misal ada orang membaca geguritan di pucuk gunung Merapi, kemudia seluruh jaringan TV menayangkan secara langsung pun, itu tidak akan membuat nasib sastra Jawa lebih baik. Nasib sastra Jawa akan baik, menurut saya, jika pelaku-pelakunya mampu melahirkan karya-karya dengan baik dan memiliki kualitas sastra yang baik. Sebab dalam kondisi saat ini, sastra Jawa tidak butuh sensasi-sensasi. (*)

*) Eko Nuryono, penulis adalah pecinta dan pemerhati sastra Jawa. Aktif dalam berbagi kegiatan sastra Jawa di berbagai daerah. Kini tinggal di Bantul.